PRESTASI MAHASISWA MANAJEMEN SEBAGAI DUTA PARIWISATA JAWA BARAT

KEYLA CANTIKA DEWI | KASTRAG | HMM

Halo Sobat Manajemen!

Tahukah kalian, salah satu mahasiswa Manajemen Pemasaran sedang mencetak prestasi gemilang di dunia luar kampus? Yuk kenalan dengan Hikmal Raihan Hidayat, mahasiswa semester akhir yang baru saja menyandang gelar Runner-Up Duta Pariwisata Jawa Barat 2025! Prestasi ini bukan hanya membanggakan dirinya secara pribadi, tapi juga membawa harum nama jurusan dan kampus kita (Universitas sebelas April) di tingkat provinsi, bahkan nasional.

Dalam dunia pariwisata Jawa Barat, sosok Hikmal Raihan Hidayat menampilkan wajah baru dari generasi muda yang aktif, berdaya saing, dan berdedikasi tinggi. Mahasiswa semester 8 Jurusan Manajemen Pemasaran ini bukan hanya unggul secara akademik, namun juga aktif dalam pengembangan sektor pariwisata melalui perannya sebagai Duta Pariwisata Sumedang serta beliau juga mempunyai gelar diantaranya: Masuk dalam 10 besar Duta Pariwisata Kab. sumedang, Ketua umum paguyuban duta pariwisata kab. Sumedang, 5th Runner Up duta pariwisata Jawa Barat 2025

Ketertarikannya terhadap dunia pariwisata berawal sejak masa SMK. Kemudian berkuliah di bidang manajemen pemasaran karena faktor pilihan pendidikan, mesikpun begitu hasratnya pada dunia pariwisata tidak padam. Dorongan itu membawanya mengikuti ajang Duta Pariwisata, dimulai dari tingkat kabupaten di Sumedang pada tahun 2023, hingga akhirnya melaju ke tingkat provinsi Jawa Barat melalui jalur mandiri.

Perjalanan menjadi Duta Pariwisata tidaklah singkat. Proses seleksi yang telah dijalani berlangsung selama enam bulan, dimulai dari tahap awal di kawasan Dago hingga babak final di Gedung Majestic, Braga. Selama proses ini, tantangan seperti kesiapan mental, tekanan akademik di semester 7, serta kendala finansial. Hebatnya, berhasil mengharmonikan semua aspek tersebut, bahkan menjadikan tema pariwisata sebagai topik skripsinya.

Sebagai Duta pariwisata, memiliki tiga peran utama: eksplor, ekspos, dan enjoy. Bukan sekedar mengunjungi objek wisata, tetapi juga menganalisis, mempromosikan, dan memberikan masukan terhadap pengembangannya. Salah satu kontribusi aktifnya terlihat dari keterlibatan dalam kegiatan MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition), seperti Festival Batik, Bordir, dan Tenun Nusantara yang berlangsung di Bandung.

Menurutnya, promosi tidak sekadar menampilkan tempat yang “Instagramable“, tetapi harus memperhatikan lima unsur utama: attraction, accessibility, amenities, ancillary services, and activities. Wisata, idealnya bersifat interaktif dan edukatif, seperti wisata hobi, kuliner, atau edutourism yang dapat memberikan nilai lebih bagi wisatawan.

Curug Sabuk di Sumedang menjadi salah satu destinasi potensial yang masih tersembunyi dan belum banyak diketahui publik. Destinasi ini sangat cocok bagi pencinta wisata petualangan, dengan keindahan alam yang masih perawan dan rute yang menantang namun memuaskan.

Salah satu momen berkesan dalam perjalananya adalah kunjungannya ke Nepal van Java, sebuah desa wisata yang terletak di lereng Gunung Sumbing, Magelang. Dengan panorama alam yang memukau dan atmosfer khas pegunungan, destinasi ini menjadi lokasi strategis untuk pelaksanaan kegiatan Table Top.

Table TOP adalah sebuah acara yang mempertemukan pelaku industri pariwisata sebagai seller dengan pelaku industri perjalanan wisata sebagai buyer. Acara ini bertujuan untuk mempromosikan potensi wisata daerah dan memperluas jaringan bisnis serta kerjasama secara langsung. Melalui kegiatan ini, Hikmal tidak hanya hadir sebagai representasi duta, tetapi juga berperan aktif dalam diskusi strategi promosi wisata, membangun relasi, serta memperkenalkan potensi pariwisata daerah khususnya Jawa Barat kepada jejaring nasional. Forum ini menjadi ajang penting untuk memperluas peluang kolaborasi antarwilayah, sekaligus sarana belajar langsung dari praktik pengelolaan wisata unggulan seperti yang diterapkan di Nepal van Java.

Dengan segudang pengalaman dan prestasi, citra sebagai duta pariwisata dijaga dengan baik. Saat mengenakan selempangnya, karena mewakili daerah dan institusi harus bersikap santun, berwibawa, dan profesional.

Manfaat dari perannya sebagai duta sangat dirasakan secara pribadi. Selain pengalaman berharga dan jejaring luas, Hikmal kerap mewakili Sumedang dalam acara-acara berskala nasional dan mendekatkan diri dengan stakeholder pemerintahan. Salah satu proyek yang kini tengah persiapkan adalah penyelenggaraan ajang nasional Duta Pariwisata Indonesia di Sumedang pada bulan September mendatang. Di balik segala pencapaian itu, tantangan tetap ada terutama dalam mengatur waktu antara kuliah, organisasi, dan pekerjaan seperti wedding organizer dan katering. Namun semangatnya untuk terus berkontribusi tidak surut.

Harapannya untuk pariwisata Jawa Barat dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan cukup jelas: pengembangan sektor pariwisata yang kolaboratif, berkelanjutan, dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat lokal. Menurutnya, pariwisata harus menjadi sumber kemakmuran tidak hanya bagi pelaku industri, tetapi juga bagi komunitas yang ada di sekitarnya.

Kisah ini menjadi cermin bahwa menjadi Duta Pariwisata bukan sekadar simbol, melainkan peran strategis yang membutuhkan keberanian, tekad, integritas, dan komitmen tinggi untuk membangun wajah pariwisata yang lebih baik dan berkelanjutan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top