HARI RAYA IDUL ADHA 1442 H

  1. PENGERTIAN QURBAN SECARA BAHASA DAN ISTILAH

Qurban berasal dari bahasa Arab, “Qurban” yang berarti dekat (قربان). Kurban dalam Islam juga disebut dengan al-udhhiyyah dan adh-dhahiyyah yang berarti binatang sembelihan, seperti unta, sapi (kerbau), dan kambing yang disembelih pada hari raya Idul Adha dan hari-hari tasyriq sebagai bentuk taqarrub atau mendekatkan diri kepada Allah.

  1. ASAL MULA ADANYA PELAKSANAAN QURBAN

Asal mula kurban berawal dari lahirnya nabi Ismail A.S.  Pada saat itu dikisahkan bahwa Nabi Ibrahim A.S tidak memiliki anak hingga di masa tuanya, lalu beliau berdoa kepada Allah.

“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.” (QS Ash-Shafaat (37) : 100).

Sewaktu Nabi Ismail A.S mencapai usia remajanya Nabi Ibrahim A.S mendapat mimpi bahwa ia harus menyembelih Ismail puteranya. Mimpi seorang nabi adalah salah satu dari cara turunnya wahyu Allah Subhanahu Wa Taala, maka perintah yang diterimanya dalam mimpi itu harus dilaksanakan oleh Nabi Ibrahim A.S. Nabi Ibrahim A.S pun akhirnya menyampaikan isi mimpinya kepada Ismail untuk melaksanakan perintah Allah Subhanahu Wa Taala untuk menyembelih Ismail.

Ibrahim berkata : “Hai anakkku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu “maka fikirkanlah apa pendapatmu? Ismail menjawab: Wahai Bapakku kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. InsyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” (QS Ash-Shafaat: 102)

Nabi Ismail meminta ayahnya untuk mengerjakan apa yang Allah perintahkan. Dan beliau berjanji kepada ayahnya akan menjadi seorang yang sabar dalam menjalani perintah itu. Sungguh mulia sifat Nabi Ismail A.S. Allah memujinya di dalam Al-Qur’an:

“Dan ceritakanlah (Hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Qur’an. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi.” (QS Maryam (19) : 54)

Nabi Ibrahim lalu membaringkan anaknya dan bersiap melakukan penyembelihan. Nabi Ismail A.S pun siap menaati instruksi ayahnya. Nabi Ibrahim A.S dan Nabi Ismail A.S  nampak menunjukkan keteguhan, ketaatan dan kesabaran mereka dalam menjalankan perintah itu.

Saat Nabi Ibrahim A.S hendak mengayunkan parang, Allah SWT lalu menggantikan tubuh Nabi Ismail A.S dengan sembelihan besar, yakni berupa domba jantan dari Surga, yang berwarna putih, bermata bagus, bertanduk.

“Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS Ash-Shafaat (37) : 104:107).

Kejadian tersebut merupakan suatu mukjizat dari Allah yang menegaskan bahwa perintah pergorbanan Nabi Ismail A.S itu hanya suatu ujian bagi Nabi Ibrahim A.S dan Nabi Ismail sampai sejauh mana cinta dan ketaatan Mereka kepada Allah SWT. Ternyata keduanya telah lulus dalam ujian yang sangat berat itu. Nabi Ibrahim A.S telah menunjukkan kesetiaan yang tulus dengan pergorbanan puteranya untuk berbakti melaksanakan perintah Allah SWT.

Sedangkan Nabi Ismail A.S tidak sedikit pun ragu atau bimbang dalam menjalankan perintah Allah SWT dengan menyerahkan jiwa raganya untuk dikorbankan kepada orang tuanya.

Dari sinilah asal permulaan sunah berkurban yang dilakukan oleh umat Islam pada tiap hari raya Idul Adha di seluruh pelosok dunia. Wallahu A’lam Bishsawab.

  1. HUKUM BERQURBAN

Menurut 4 madzab hukum qurban ini adalah sebagai berikut :

  1. Menurut Madzhab Imam Syafi’i Ra Sunnah muakkadah (sunah yang dikuatkan)
  2. Menurut Madzhab Imam Hanafi Ra Wajib.
  3. Menurut Madzhab Imam Malik Ra Sunnah Muakkad
  4. Menurut Madzhab Imam Hambali Ra Sunnah Muakkadah (Sunnah yang dikuatkan seperti mazgab Imam Syafi’i Ra)

Maka jika di lihat di atas, Hukum berqurban ini terbagi menjadi dua, yaitu:

  1. Sunnah Muakkadah

Hukum berqurban bagi umat Islam adalah sunnah muakkadah ‘ala al kifayah, artinya sebagaimana dikatakan oleh al Khatib al Syirbini dalam kitab al Iqna’, “Apabila dalam suatu keluarga yang terdiri dari beberapa orang sudah berqurban dengan satu kambing, maka sudah mencukupi dari tuntutan kesunahan”.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Artinya: “Maka kerjakanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah).” (QS. Al-Kautsar ayat 2).

Hukum sunnah muakkadah berlaku atas orang yang memenuhi syarat-syarat seperti berikut:

  1. Islam
  2. Merdeka (Bukan hamba sahaya)
  3. Baligh lagi berakal
  4. Mampu untuk berqurban
  5. Wajib

Hukum qurban menjadi wajib apabila didahului dengan nadzar atau dengan perkataan yang dihukumi sebagai nadzar.

Contoh nadzar seperti apabila seseorang berkata: “aku bernadzar bila anakku lulus ujian, maka aku akan menyembelih binatang qurban”.

Adapun contoh perkataan yang dihukumi nadzar seperti ucapan seseorang, “Kambing atau Sapi ini saya jadikan qurban”. Bahkan ucapan seseorang “ini kambing qurban”, atau “ini sapi qurban” maka qurbannya menjadi wajib.

  1. KRITERIA, JENIS DAN BATASAN USIA HEWAN QURBAN
  • Kriteria hewan qurban
  1. binatang ternak.
  2. sempurna umurnya.
  3. selamat dari kecacatan yang bisa mengurangi dagingnya atau membahayakan keselamatanya seperti;
  4. Hewan yang sakit
  5. Hewan yang bermata satu atau Picak
  6. Hewan yang pincang yang jelas pincangnya.
  7. Hewan yang kurus
  8. Hewan yang patah tanduknya jika berefek mengurangi dagingnya , atau patah tulangnya atau putus sebagian telinganya atau lidahnya.
  • Jenis-jenis hewan Qurban dan batasan umurnya:
  1. Unta yang sudah sempurna umur nya 5 tahun
  2. Sapi yang sudah sempurna umur nya 2 tahun
  3. Domba yang umurnya sudah sempurna 1 tahun meskipun belum copot giginya, atau yang sudah copot gigi depannya walaupun belum pas1 tahun.
  4. Kambing yang sudah sempurna umurnya 2 tahun .

Catatan:

Satu ekor domba atau kambing hanya boleh

dijadikan Qurban dari satu orang plus keluarganya.

Sedangkan satu ekor unta,sapi,kerbau bisa dari tujuh orang plus keluarganya masing-masing.

  1. WAKTU PELAKSANAAN QURBAN

🕕 Waktu pelaksanaan qurban ialah pada hari ‘Idul Adlha (10 Dzulhijjah) dan tiga hari tasyriq (tanggal 11, 12 dan 13 Dzulhijjah), dari mulai setelah terbit matahari dan berlalunya seukuran dua raka’at dan dua khutbah yang ringan dan akhirnya sampai Magrib tgl 13 Dzulhijjah. Maka, jika menyembelih sebelum waktu tersebut atau sesudah Magrib tgl 13 Dzulhijjah maka tidak termasuk Qurban kecuali  Qurbannya sudah dinadzarkan,maka tetap wajib disembelih walaupun sudah lewat Magrib tgl 13 Dzulhijjah maka sah dan hukumnya qodlo, namun dosa dan wajib taubat jika  mengakhirkan menyembelihnya tanpa udzur sampai lewat Magrib tgl 13 Dzulhijjah (hari tasyriq)

Dalam sebuah hadits disebutkan, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِنَّ أَوَّلَ مَا نَبْدَأُ بِهِ فِي يَوْمِنَا هَذَا أَنْ نُصَلِّيَ ثُمَّ نَرْجِعَ فَنَنْحَرَ مَنْ فَعَلَهُ فَقَدْ أَصَابَ سُنَّتَنَا وَمَنْ ذَبَحَ قَبْلُ فَإِنَّمَا هُوَ لَحْمٌ قَدَّمَهُ لِأَهْلِهِ لَيْسَ مِنْ النُّسُكِ فِي شَيْءٍ

“Sesunguhnya sesuatu yang kami awali hari ini adalah shalat kemudian pulang kemudian kami menyembelih (qurban). Barang siapa melakukan hal itu maka benar -benar telah sesuai dengan syari’atku dan barang siapa menyembelih sebelumnya maka sesungguhnya hanya daging yang disuguhkan pada ahlinya dan bukan sesuatu dari ibadah” (H.R Bukhari)

  1. NIAT BERQURBAN

Niat berqurban (untuk diri sendiri, dari kita dan keluarga kita, dari orang lain) dan tata cara penyembelihan menurut sunnah

📍 Niat Berqurban Untuk Diri Sendiri

نويت أن أاضحي للهِ تَعَالى

Dalam bahasa latinnya:

Nawaitu An Udhahhi Lillaahi Ta’ala.

Artinya adalah:

Saya niat berkurban karena Allah Ta’ala.

📍Niat Berqurban dari diri kita dan keluarga kita

نويت أن أضحي عن نفسي وعن أهل بيتى سنة أداء لله تعالى

Nawaitu an udlohhiya ‘an nafsii wa’an ahli baitii sunnatan adaa an liLLaahi Ta’aalaa.

Artinya: “Niat saya menunaikan Qurban dari diri saya dan keluarga saya sunnat karena Allah Ta’alaa”.

📍Niat berqurban apabila menyembelih dari orang lain

نويت أن أضحي عن (فلان) سنة أداء لله تعالى

Nawaitu an udlohhiya ‘an (fulan) sunnatan adaa an liLLaahi Ta’aalaa.

Artinya: “Niat saya menunaikan Qurban dari si fulan karena Allah Ta’aalaa.                                                                                 

  • TATA CARA PENYEMBELIHAN MENURUT SUNNAH
  1. Takbir seperti Takbir ‘Id
  2. Membaca Solawat kepada Nabi Shalallahu’alaihi Wassalam
  3. Membaca Basmalah.

بسم الله الله اكبر

Bismillaahi Alloohu Akbar.

  1. Membaca do’a :

اللهم هذا منك واليك فتقبل مني كما تقبلت من حبيبك سيدنا ومولانا محمد صلى الله عليه وسلم ومن خليلك سيدنا إبراهيم عليه السلام

Alloohumma haadzaa minka wa ilaika fataqobbal minnii kamaa taqobbalta min Habiibika Sayyidinaa Wamaulaanaa Muhammadin SAW Wamin Kholiilika Sayyidinaa Ibroohiim ‘Alaihissalaam.

Yaa Alloh! ini dari Engkau dan kembali kepadaMu ”

Artinya : “Maka terimalah ini dari hamba seperti mana Engkau telah Menerimanya dari KekasihMu Junjungan kami Sayyidinaa Muhammad SAW juga dari KhalilMu Sayyidinaa Ibrohim ‘Alaihissalaam”

  1. Dilakukan pada siang hari agar lebih jelas
  2. Orang yg menyembelih dan hewan Qurbannya menghadap ke arah Qiblat, posisi hewan dalam posisi tidur miring ke kiri serta kepala didongakkan.
  3. Sunnah memotong melilit ke bagian kuduknya.
  4. Sunnah lebih mempertajam alat yang digunakan untuk menyembelih.
  5. Pisaunya tidak sampai mengenai nakhâ’

(Saraf yang berada dalam leher yang berpusat dari tulang rusuk hingga otak)

  1. Tidak sampai memutus kepala.
  2. Mempercepat proses penyembelihan.
  3. Tidak memperlihatkan penyembelihan kepada hewan qurban lainnya.

Rincian proses penyembelihan hewan kurban yang diambil dari riwayat-riwayat hadist dan keterangan para ulama,

  1. Pekurban dan penyembelih dalam keadaan suci.
  2. Tempat pemotongan hewan kurban relative bersih dari kotoran,
  3. Bersikap lembut terhadap hewan kurban, tidak berlaku seperti menarik hewan tersebut secara kasar, terlebih sambil dipukul.
  4. Memberikannya minum untuk hewan kurban sebelum disembelih untuk menearapkan al-Ihsan yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terkait sembelihan,
  5. Menghadapkan hewan kurban yang disembelih ke arah kiblat.
  6. Ketika menyembelih, penyembelih membaca shalawat:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ,

Artinya:

“Tuhanku, limpahkan rahmat untuk Nabi Muhammad SAW dan keluarganya.”

  1. PEMBAGIAN DAGING QURBAN
  • Jika qurbannya wajib yaitu yang dinadzarkan maka seluruhnya
  • harus diberikan dibagikan dalam keadaan mentah, haram bagi yang berqurban dan keluarganya yang wajib ia nafkahi memakannya sedikitpun.
  • Jika Qurbannya Sunnah maka dibolehkan bahkan Disunnahkan bagi yang qurbannya dan keluarganya memakan sedikit saja sesuap dua suap saja dan harus diberikan dalam keadaan mentah pula.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top